HIDUP INI SINGKAT JIKA HANYA MERASA TERUS DISAKITI DAN DIKNIANATI

Ada banyak cerita yang dapat menggambarkan judul dari artikel ini dan kira-kira apa yang ada dibenak sobat ? Jika kita ingin mereview ke belakang tentang salah satu Film yang sempat populer dari tahun ke tahun hingga 2019, salah satu film tersebut yang bisa kita jadikan gambaran singkat yaitu film Joker. Film Joker adalah salah satu film bergenre psikologi menceriterakan tentang sosok joker dengan segala kejahatannya. Sebuah kalimat yang sempat popular di kalangan penonton setia kala itu adalah 'Orang Jahat adalah Orang Baik yang tersakiti'. Awalnya joker adalah sosok yang baik hati namun kemudian mejadi jahat karena banyak disakiti.



Salah satu sobat tujuhblas pernah berkonsultasi kepada mimin katanya 'Apa yang harus kita lakukan jika kebaikan kita selalu dibalas kejahatan/keburukan? Apakah kita harus menjadi jahat ?
pertanyaan ini mengawali pertanyaan, apa sebenarnya yang harus kita lakukan, apakah harus menjadi seperti seorang Joker tersebut ? Jika mau menjawab pertanyaan ini, mimin rasa sobat semua pasti memilih untuk tetap jadi orang baik walau dikecewakan, atau ada yang ingin menjadi jahat ? 

Sebuah kalimat bijak pernah dilontarkan beberapa orang  ; Jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan bukankah kita sama jahatnya ? Benar sekali sobat, kejahatan dibalas kejahatan hanya memunculkan masalah baru. Lalu bagaimana agar kita bisa bebas dari rasa sakit atau kecewa itu ?

Sobat tujuhblas, banyak penelitian membenarkan jika kita hidup dilingkungan yang penuh dengan rasa sakit, kita pasti akan terus merasa jadi orang yang tersakiti. Seperti halnya seorang joker diatas, ketika kehidupannya berada dalam lingkungan yang penuh dengan bullying, hal tersebut bisa merubah kepribadiannya dimana ia memilih untuk jadi seseorang yang begitu jahat. Ada tapinya sobat, jika kita telah memahami dampak dari perilaku baik dan buruk, harusnya kita tidak perlu merubah apapun dari diri kita apalagi menjadi orang yang begitu jahat. Baik atau buruk adalah pilihan dan kita harus terima atas segala konsekuensinya. Ketika pilihan kita mengikuti arus lingkungan yang berdampak negatif, otomatis kita akan melahirkan kepribadian yang demikian dan hal tersebut sebenarnya merupakan kelemahan kita. Hal tersebut bukan lagi menjadi pertarungan antara kita dengan lingkungan tetapi dengan diri kita sendiri. 

Jadi, bagaimana supaya kita tetap jadi baik dari dilingkungan seperti itu ? Sebenarnya banyak pilihan untuk menyelesaikan masalah, semua kembali pada diri sendiri tergantung bagaimana kita lebih nyaman, misalnya kalau sobat tidak mampu, sobat bisa lebih baik meninggalkan lingkungan itu. Pilihan lainnya, bisa dalam lingkungan tersebut namuan tetap menjunjung tinggi agama, budaya yang sobat yakini untuk menyelesaikan masalahnya. Dan dari itu semua itu, mimin cuman ingin berpesan, tetap jadi versi terbaik dari dirimu, hidup ini singkat jika hanya merasa terus disakiti atau dikhianati. Semua harus kita pikirkan terlebih dahulu untuk diri kita kemudian kepada orang lain. Masih banyak hal lain yang harus kita jaga termasuk diri kita sendiri. 

Posting Komentar

0 Komentar