GEREJA DITUTUP IMAN MENJADI LEMAH, APAKAH BETUL ?

Pandemi virus corona atau Covid-19 adalah sebuah wabah virus global. Virus yang pertama kali menyerang penduduk di kota wuhan cina pada akhir bulan desember, 2019 lalu  itu telah menyerang kehidupan manusia yang hingga saat ini mencapai 3.823.538 kasus dengan kematian mencapai 269.749 jiwa (Sumber ; BBC, Mei, 9 2020). Selain mengancam jutaan jiwa penduduk, virus ini juga mempengaruhi tingkat kestabilan ekonomi, tatanan sosial bahkan agama di negara-negara. Hal ini kemudian penduduk di Indonesia juga menjadi dampak dengan data pada  Jumat, 8 Mei 2020 mencapai 13.112 kasus dengan kematian mencapai 943 jiwa. Kestabilan ekonomi, tatanan sosial bahkan aktifitas keagamaan di Indonesia nyatanya ikut berubah juga dengan diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

PSBB adalah strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan penyebaran virus corona di Indonesia, mengingat penyebaran virus ini sangatlah cepat. Saat ini penduduk di Indonesia mengalami tantangan ekonomi yang luar biasa, di mana sebagian pabrik ,UMKM bahkan pedagang di setiap kota mengalami penurunan pendapatan dan menimbulkan kerugian hingga pabrik atau usaha-usaha harus ditutup dan berujung PHK terhadap karyawan. Dari kehidupan ekonomi, dunia pendidikan juga demikian ; cara belajar di sekolah dan perguruan tinggi akhirnya dialihkan di rumah dengan sistem online. Belum selesai perubahan yang diakibatnya pandemic ini, saat ini yang paling disoroti adalah kehidupan beragama. Ibadah-ibadah yang tadinya dilakukan di gereja juga sebagian telah dilakukan di rumah atau secara online. Ini menimulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada beberapa umat beragama yang menyoroti dengan anggapan bahwa umat seperti kehilangan Iman, Gereja lebih takut Virus daripada percaya kuasa Tuhan. Hingga sampai saat ini masih ada juga yang membanding-bandingkan kenapa pasar bisa dibuka tetapi tempat ibadah itu ditutup erat.

Sobat tujuhblas, begitulah gambaran singkat kehidupan yang terjadi sekarang ini di mana dunia bahkan akhiratpun sedang dalam perhatian khusus karena wabah virus ini. Perdebatan-perdebatan agama terjadi diluar sana. Ada yang bisa diambil sebagai solusi, ada yang hanya sekedar mengkritik, ada yang malah lebih baik saling berempati langsung terhadap pasien bahkan paramedic sebagai garda terdepan saat ini.
(gambar : beritanarwastu.com)


GEREJA YANG KELIHATAN DAN TIDAK KELIHATAN.

Kehidupan beragama memang sesuatu yang sakral untuk dibahas, tetapi kemudian ini harus sama-sama kita bahas apabila ada yang memang diluar dari pandangan pada umumnya. Misalnya perdebatan akhir-akhir ini tentang gereja yang ditutup.
Selain wabah virus yang begitu mendunia, komentar mengenai Gereja di tutup juga menjadi perdebatan mendunia. Ada yang pro ada yang kontra. Hal ini kemudian di kait-kaitkan dengan Iman seseorang.

Dalam konteks Kekristenan, Iman merupakan dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” ( Ibrani 11:1 ). Kemudian pada surat Yakobus menyatakan juga bahwa Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Selalanjutnya eksistensi gereja sekarang ini juga disebut sebagai bait Allah.

Ayat-ayat ini kemudian dikaitkan dengan kondisi sekarang ini, di mana penilaian sebagian orang seakan Gereja lemah karena pandemi virus, manusia lebih takut terhadap virus, dan manusia lebih yakin pergi ke pasar daripada ke gereja. Pasar tetap dibuka tetapi Gereja ditutup. Iman manusia diperhatikan menjadi lemah.

Sobat tujuhblas, beberapa orang telah memahami Gereja adalah sebuah gedung atau tempat Ibadah bagi kaum Kristiani yang pada perjanjian lama disebut sebagai bait Allah. Bait allah sebagai tempat kediaman allah dan itu merupakan tempat yang kudus. Bait allah harus dipelihara. Umat Tuhan harus datang beribadah di bait allah.

Pemahaman secara alkitabiah mengenai gereja adalah bait allah ternyata tidak serta merta merujuk bahwa gereja atau bait Allah hanyalah sebuah gedung dan orang-orang Kristen melakukan peribadatan hanya ditempat tertentu, tetapi seutuhnya Gereja adalah kumpulan orang percaya yang dipandang sebagai tempat kediaman allah. Allah tidak hanya hadir dalam bangunan, tetapi dalam komunitas (umat) karena Gereja adalah tubuh kristus, Gereja itu siapa ? Gereja adalah umat yang berkumpul dalam nama Yesus. Pada kitab perjanjian lama firman tentang kaum Israel menjadi gambaran awal bagaimana menjadi gereja. Kaum israel menjadi umat pilihan Allah. Allah selalu memimpin dan menolong umat Israel dalam kesukaran. Sikap yang harus diambil umat Israel pada waktu itu adalah percaya. Israel sebagai lambang gereja kala itu. Pada perjanjian baru juga demikian, kejatuhan manusia ke dalam dosa tak berarti Allah tetap diam dalam mengasihi umat yang telah dibentuk dan kemudian hancur karena dosa manusia sendiri. Paulus selalu mengingatkan kepada jemaat di korintus tentang tubuh adalah bait suci. Yesus Kristus yang adalah Tuhan sendiri diluar dari percaya kepada kristus tidak mungkin orang menjadi umat Tuhan. Singkatnya, maksud gereja  dalam alkitab megingatkan kita dan memaknai Gereja adalah umat yang percaya, berkumpul dan melayani Tuhan dalam karya menyelamatkan manusia. Gereja adalah umat allah yang akan terus memberitakan perbuatan-perbuatan Allah dan menjadi terang bagi sesama. Akan tetapi pandangan ini tidak boleh diartikan lain bahwa umat Allah tidak perlu lagi beribadah di sebuah bangunan, memang kehadiran Allah lebih penting dibandingkan sebuah bangunan, tetapi Tuhan menghendaki ada tempat-tempat khusus bagi umatNya untuk beribadah kepadaNya.

Gereja akhirnya melahirkan 2 konsep yaitu Gereja yang kelihatan (Gedung) dan Gereja yang tidak kelihatan (Umat percaya yang berkumpul).

Gereja yang kelihatan dari sebuah gedung gereja ini bisa jadi perantara antara Kristus dan umat manusia. Sedangkan konsep Umat yang beriman disebut sebagai Gereja yang tidak kelihatan artinya Gereja ini adalah umat Tuhan dengan kualitas imannya. Seperti umat Israel tadi, mereka harus percaya maka mereka akan dikumpulkan allah menjadi satu Gereja. Menyangkut Gereja yang tidak kelihatan ini , kita sama sekali tidak tahu setiap orang tersebut beriman atau tidak, yang paling tahu hanya Tuhan. Sederhananya begini, Siapapun bisa masuk ke gereja yang adalah tempat beribadah tetapi tidak tahu pasti kualitas imannya seperti apa, apalagi kita menilai gereja yang tidak kelihatan itu. Siapa kita berani menilai Iman seseorang padahal kita sama-sama hidup oleh karena pengasihan Allah ? Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan memang tidak bisa dipisahkan karena dua-duanya memiliki tujuan yang sama yaitu melayani kristus, memberitakan injil sesama orang percaya bahkan tidak percaya kristus untuk kemudian mengikut kristus.

GEREJA TIDAK DITUTUP.

Pandemi covid-19 menjadi tren virus global yang adalah polemik dibalik ditutupnya  sementara beberapa gedung gereja sebagai tempat beribadah umat kristiani untuk  menekan penyebaran virus covid-19 yang disarankan pemerintah untuk jaga jarak (social distancing) atau menghindari  kerumunan banyak orang. Hal ini membuat sebagian orang berfikir lain dengan menilai bahwa fungsi gereja baik gedung dan orang-orangnya seperti kehilangan iman atau lemah kepada Tuhan. Apakah benar ? ternyata Tidak. Karena faktanya masih adanya peribadatan walau hal itu dengan jumlah orang yang terbatas. Kita masih mendengar lonceng gereja setiap minggu, walau ibadahnya dilakukan di rumah.  Jika dilihat secara kasat mata Gedung gereja memang ditutup, tetapi sebenarnya tidak sepenuhnya ditutup dan makna Gereja itu tidaklah berakhir tapi tetap hidup. Jika hari ini kita berhenti percaya pada Kristus dan tidak melakukan peribadatan sama sekali,  itulah kualitas iman kita sesungguhnya artinya kita lemah, tapi nyatanya tidak sama sekali. Orang-orang masih melakukan doa bersama di rumah, para pelayan Tuhan tetap berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan terbaik untuk sesama dan Tuhan. Terbukti masih ada pelayanan terhadap orang-orang yang dirundung dukacita, begitu juga dengan liturgi ibadah setiap minggu. Cara gereja dalam lingkup organisasi ini mungkin beda-beda dalam menyikapi pandemic ini, tetapi yang paling terpenting sikap gereja baik yang kelihatan dan tidak kelihatan itu betul-betul tidaklah berakhir. Seperti kata Paulus kepada jemaat di roma, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” – Roma 12:1

Umumnya ,memang sebagian orang lebih mudah menilai iman seseorang hanya karena tidak pergi ke gereja yang secara kelihatan itu, tetapi sepintar-pintarnya manusia berfikir dan menilai, manusia sama sekali tidak ada hak sama sekali mengukur iman seseorang, karena ukuran itu adalah pemberian Allah yang hanya bisa dinilai oleh Allah langsung. ‘Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”. (Efesus)

JADI, SEBENARNYA PERLU ATAU TIDAK BERIBADAH DI GEREJA ?

Diawal tadi sudah mimin singgung menyangkut Gereja yang kelihatan dan tidak kelihatan dimana kedua hal ini tidak bisa dipisahkan maknanya. Kalau kita memisahkan, anggapan kita jadi lain bahwa Tuhan hanya hadir di gereja (Gedung). Firman Tuhan dalam kitab Matius dikatakan bahwa ‘dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

Mimin tahu persis sekarang ini betapa orang-orang sangat merindukan datang ke gereja, mendengarkan kotbah, berdoa bersama, saling berjabat tangan dengan kesempatan itulah kita berkumpul dengan banyak orang. Namun dalam kondisi tertentu, kita juga bisa dibenarkan karena tidak dapat pergi ke gereja yang kelihatan itu contohnya sakit parah. Kita pernah mendengar Firman tentang penyembuhan yang dilakukan Tuhan Yesus, di manapun, kapanpun, Tuhan sanggup melakukannya. Kita pernah mendengarkan Amsal-amsal Tuhan dengan segala kebijaksanaanNya. Hal ini tidak ada bedanya dengan kondisi saat ini, di mana negara-negara di dunia sedang berperang melawan virus yang mudah menyebar hingga jutaan kasus. Di satu sisi, kita bukan ragu atas kuasa Tuhan, tetapi kita menyadari  di manapun, kapanpun, cara Tuhan menunjukan jalan kepada umatnya itu beda-beda. Jadi, sebenarnya sangat penting sekali kita beribadah di Gereja, berkumpul dengan umat Tuhan lainnya, namun di satu sisi, kita harus bijak. Setiap minggu di gereja pendeta menyampaikan doa kepada pemerintah untuk mengatur pemerintahan dengan bijak, giliran pemerintah mengeluarkan ajuran PSBB semuanya langsung bilang orang-orang telah kehilangan imannya karena tidak ke gereja. Lalu apa gunanya kita berdoa setiap minggu. Pemerintah memang tidak selamanya mengeluarkan aturan yang mampu diterima masyarakat, tapi setidaknya dalam kasus ini, pemerintah mencoba menolong dalam menangani masalah.

Sobat tujubhlas,  menilai iman itu sakral, tidak ada bedanya seperti kita menghakimi orang lain. Harusnya jangan dilakukan, jangan menilai iman seseorang, karena kita tidak tahu persis sama sekali menyangkut kualitas iman seseorang karena hanya Tuhan yang paling tahu. Kita hanya bisa melakukan yang kita mampu menurut ukuran Tuhan.

Sobat tujuhblas, dalam kondisi seperti inipun, sama-sama harusnya saling mendoakan, ibadah dimanapun semoga semuanya tidak hilang iman sama sekali, bisa jadi, dalam kondisi ini, rumah adalah bait allah yang kelihatan itu karena bait allah sifatnya tidak terbatas. Kenapa itu yang tidak disoroti orang jika ingin menilai iman ? Semua orang tetap berdoa dari rumah, semua orang masih berharap pandemic ini cepatlah berlalu dan kembali melakukan aktifitas seperti biasa termasuk beribadah di Gedung Gereja. Orang yang sakit, pemerintah, bahkan paramedik yang sedang berjuang saat ini, bisa jadi adalah malaikat Tuhan untuk memerangi virus ini. Mereka juga sama seperti kita, sama-sama punya agama, sama-sama percaya kepada Tuhan. Mereka rela bekerja selama 24 jam melayani sesama bahkan ibadah merekapun harus di rumah sakit bahkan kedapatan ada sebuah cerita kesaksian dari pasien covid-19 yang merasakan betapa kuasa Tuhan bekerja dalam situasi seperti itu sampai ia dinyatakan sembuh. Apakah ada yang mampu menilai mereka lemah iman karena tidak pergi ke gereja, sementara mereka berjuang begitu berat ? Semoga narasi ini bermanfaat untuk lebih menggunakan hati kita dengan bijak.

Gereja yang adalah orang-orang percaya sesungguhnya, tidak hanya ditemui di gedung gereja tetapi di manapun mereka beribadah dan menyerahkan hidupnya untuk kemuliaan Tuhan. Mereka tetap menaruh kristus dalam hati dan perbuatan. Gereja yang kelihatan itu (gedung) memfasilitasi kita untuk mengabarkan injil di zaman ini, sebuah keharusan dan kebutuhan kita berkumpul, tetapi alkitab mengingatkan kita untuk belajar bijak dalam kondisi apapun contoh dalam pandemic ini.  Bijak dan tetap mengandalkan Tuhan. Ibadah di Gedung gereja mungkin lebih dianjurkan tetapi dalam beberapa kondisi bisa dilakukan di rumah tanpa menghilangkan eksistensi gereja sama sekali melihat Bait Allah adalah umat yang berkumpul dan tetap percaya kepada Tuhan.

GEREJA DITUTUP, PASAR DIBUKA.

Sebenarnya konsepnya seperti ini, Pasar itu terbatas, tetapi gereja itu tidak terbatas. Pasar kalau ditutup, orang-orang kesusahan pangan karena pasar hanya beberapa di kota. Semua orang tidak berprofesi sebagai petani dengan persediaan makanan di kebun, Dibandingkan dengan gereja jika pintu gereja ditutup, kita masih bisa beribadah di rumah.  Karena ada kepala gereja yang hakiki  adalah Tuhan. Jadi sebenarnya, Pasar sama sekali tidak memiliki kedudukan lebih tinggi dari gereja. Orang-orang lebih takut ke gereja daripada ke pasar. Gereja yang dikehendaki Tuhan tidak pernah menonjolkan bahwa diriNya lah yang paling kuat, karena itu kita manusia harus belajar merendah diri, bukan merendah iman. Beberapa pertimbangan lainnya menjadi alasan penutupan gedung gereja sementara waktu ini, mengingat kalau kita ke pasar, kita mungkin tidak bisa lama-lama sedangkan ke gereja, kita akan lebih banyak berkomunikasi dengan orang lain dalam waktu yang lebih lama. Jadi, sebenarnya Gereja tidak di sampingkan tetapi Gereja sifatnya tak terbatas. Sekali lagi, Firman dalam kitab Matius 18 mengingatkan ; Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.

Aturan dan Dogma ini akhirnya menegaskan Gereja tidak ditutup sama sekali,  hanya tempat saja yang dialihkan, peribadatan masih dilakukan dengan berbagai cara. Pelayan Tuhan masih berusaha semaksimal mungkin melakukan pelayanan dan umat tetap beribadah.  Iman manusia diuji dalam pandemi ini, kalau anggapan ini mimin setuju sekali. Iman memang diuji apakah kita masih setia kepada Tuhan jika ibadahnya di rumah, apakah kita masih berkomunikasi dengan Tuhan walau hanya di rumah ? Semoga pandemi ini cepat berlalu. Gereja tetap gereja selama kita percaya dan melakukan perintah-perintahNya.









#Rini

Posting Komentar

0 Komentar