Mengenal Cacing Laut atau Laor yang biasa diburu orang halmahera setiap tahun



Cacing laut atau dalam bahasa latinnya Polychaeta adalah hewan invertebrata yang termasuk anggota filum Annelida. Secara umum morfologi Annelida dicirikan dengan tubuhnya bersegmen-segmen memanjang (Bartolemous 1999). Masyarakat di Indonesia mengenal cacing Polychaeta dengan nama cacing laut, karena habitatnya sebagian besar di laut. Beberapa jenis Polychaeta juga dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi manusia misalnya cacing wawo (Lysidice oele) di Ambon Indonesia, cacing palolo Pacific (Eunice viridis) di Polynesia, dan cacing palolo Atlantic (Eunice schemacephala) di Teluk Meksiko (Thorpe et al. 2000; Pamungkas 2009).

Polychaeta yang berada di perairan Maluku, pertama kali diteliti oleh Rumphius, seorang peneliti Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) keturunan Jerman, dalam Ekspedisi Rhumpius III pada 1977. Penelitian lanjutan yang lebih mendalam terhadap Polychaeta secara keseluruhan baru dilakukan oleh peneliti Jerman lainnya pada 1995.


Faktanya, cacing laut ini hidup di terumbu karang pada pantai tropis yang berada dekat dengan samudera pasifik. Di indonesia sendiri ada beberapa daerah yang disebut sebagai habibat dari cacing laut tersebut yaitu Maluku, Maluku Utara dan Lombok. Masyarakat maluku dan maluku utara sering menyebutkan nama cacing laut itu dengan sebutan 'Laor' sedangkan untuk masyarakat Lombok menyebutkan dengan nama 'Nyale'.

Di Maluku ada 54 jenisnya tetapi Palola viridis dan Lysidice oele adalah yang paling banyak begitupun di daerah maluku utara tepatnya di pulau Halmahera Utara. Cacing laut atau laor menjadi buruan masyakarat halmahera setiap tahun pada bulan mei atau juni. Laor atau cacing laut ini muncul di beberapa perairan di halmahera utara dengan habitatnya di pulau dengan banyak terumbu karangnya contohnya seperti di Pulau Tupu-Tupu, Pulau Raha, Kolorae dan Pulau Bobale. 

Ada yang unik dari cara mengetahui kapan cacing laut atau laor akan mucul. Menurut perhitungan masyarakat halmahera yang paling berpengalaman dalam hal ini, katanya dilihat dari peristiwa bulan purnama. Empat sampai sepuluh hari setelah peristiwa bulan purnama, biasanya cacing laut atau laor ini akan banyak bermunculan dari karang. Jadi, sebelum teknologi secanggih sekarang ini, ternyata perhitungan orangtua kita masih bisa dipercaya dan dibuktikan kebenarannya. Orang halmahera biasanya bermalam di pulau hanya untuk menunggu waktu panen laor tersebut. Alat yang digunakan untuk menangkap cacing laut tersebut biasanya menggunakan aya-aya atau ayakan, tapi yang paling umum digunakan adalah kain tipis dengan modif segitiga yang diikat di kayu. Cara pengambilan cacing laut itupun harus memberanikan diri turun ke atas karang bahkan ke dalam air laut sekitar karang.

Fakta lainnya, cacing laut yang diminati ini memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari telur ayam dan susu sapi. Laor memiliki kandungan protein sebanyak 43.84% sedangkan telur ayam ras dan susu sapi masing-masing hanya sebesar 12.2% dan 3.50%. Laor juga memiliki kandungan Kalsium bahkan Vitamin B. Namun setiap daerah atau habitat dari cacing laor tersebut bisa mempengaruhi kadar atau tingkat kandungan setiap zat. Hal tersebut menjadi bukti bahwa cacing laut atau laor dapat dikonsumsi.

Posting Komentar

0 Komentar